Tampilkan postingan dengan label Kultur Jaringan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kultur Jaringan. Tampilkan semua postingan

Tahapan Pembuatan Kultur Jaringan

Tahapan Pembuatan Kultur Jaringan

a. Pembuatan media

Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf. 

Biasanya, komposisi media yang digunakan adalah sebagai berikut :


 Ammonium nitrate (NH4NO3) 1,650 mg/l

 Boric acid (H3BO3) 6.2 mg/l

 Calcium chloride (CaCl2 · H2O) 440 mg/l

Cobalt chloride (CoCl2 · 6H2O) 0.025 mg/l

 Magnesium sulfate (MgSO4 · 7H2O) 370 mg/l

 Cupric sulfate (CuSO4 · 5H2O) 0.025 mg/l

Potassium phosphate (KH2PO4) 170 mg/l

Ferrous sulfate (FeSO4 · 7H2O) 27.8 mg/l

Potassium nitrate (KNO3) 1,900 mg/l

 Manganese sulfate (MnSO4 · 4H2O) 22.3 mg/l

Potassium iodine (KI) 0.83 mg/l

Sodium molybdate (Na2MoO4 · 2H2O) 0.25 mg/l

Zinc sulfate (ZnSO4 · 7H2O) 8.6 mg/l

Na2EDTA · 2H2Oa 37.2 mg/lb

a. Inisiasi adalah merupakan pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan dikulturkan. Bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan kultur jaringan adalah tunas.

b. Sterilisasi adalah bahwa segala kegiatan dalam kultur jaringan harus dilakukan di tempat yang steril, yaitu di laminar flow dan menggunakan alat-alat yang juga steril. Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan, yaitu menggunakan etanol yang disemprotkan secara merata pada peralatan yang digunakan. Teknisi yang melakukan kultur jaringan juga harus steril.

c. Multiplikasi adalah kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan menanam eksplan pada media. Kegiatan ini dilakukan di laminar flow untuk menghindari adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan eksplan. Tabung reaksi yang telah ditanami ekplan diletakkan pada rak-rak dan ditempatkan di tempat yang steril dengan suhu kamar.

d. Pengakaran adalah fase dimana eksplan akan menunjukkan adanya pertumbuhan akar yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang dilakukan mulai berjalan dengan baik. Pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan akar serta untuk melihat adanya kontaminasi oleh bakteri ataupun jamur. Eksplan yang terkontaminasi akan menunjukkan gejala seperti berwarna putih atau biru (disebabkan jamur) atau busuk (disebabkan bakteri).

e. Aklimatisasi adalah kegiatan memindahkan eksplan keluar dari ruangan aseptic ke bedeng. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu dengan memberikan sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar.

Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit generatif.

Keunggulan inilah yang menarik bagi produsen bibit untuk mulai mengembangkan usaha kultur jaringan ini. Saat ini sudah terdapat beberapa tanaman kehutanan yang dikembangbiakkan dengan teknik kultur jaringan, antara lain adalah: jati, sengon, akasia, dll.

Bibit hasil kultur jaringan yang ditanam di beberapa areal menunjukkan pertumbuhan yang baik, bahkan jati hasil kultur jaringan yang sering disebut dengan jati emas dapat dipanen dalam jangka waktu yang relatif lebih pendek dibandingkan dengan tanaman jati yang berasal dari benih generatif, terlepas dari kualitas kayunya yang belum teruji di Indonesia. Hal ini sangat menguntungkan pengusaha karena akan memperoleh hasil yang lebih cepat.
Read more

Teknik Kultur Jaringan Serta Keuntungan Dan Kekurangan Pemanfaatan Kultur Jaringan

Teknik Kultur Jaringan 

Teknik kultur jaringan sangat sederhana, yaitu suatu sel atau irisan jaringan tanaman yang sering disebut eksplan secara aseptik diletakkan dan dipelihara dalam medium pada atau cair yang cocok dan dalam keadaan steril. dengan cara demikian sebaian sel pada permukaan irisan tersebut akan mengalami proliferasi dan membentuk kalus. Apabila kalus yang terbentuk dipindahkan kedlam medium diferensiasi yang cocok, maka akan terbentuk tanaman kecil yang lengkap dan disebut planlet. Dengan teknik kultur jaringan ini hanya dari satu irisan kecil suatu jaringan tanaman dapat dihasilkan kalus yang dapat menjadi planlet dalam jumlah yang besar.

Pelaksanaan teknik kultur jaringan tanaman ini berdasarkan teori sel sperti yang dikemukakan oleh Schleiden, yaitu bahwa sel mempunyai kemampuan autonom, bahkan mempunyai kemampuan totipotensi. Totipotensi adalah kemampuan setiap sel, darimana saja sel tersebut diambil, apabila diletakkan dilingkungan yangsesuai akan tumbuh menjadi tanaman yang sempurna.Teknik kultur jaringan akan berhasil dengan baik.


 Syarat-syarat yang Diperlukan 

a. Pemilihan eksplan sebagai bahan dasar untuk pembentukkan kalus

b. Penggunaan medium yang cocok

c. Keadaan yang aseptik dan pengaturan udara yang baik terutama untuk kultur cair. Meskipun pada prinsipnya semua jenis sel dapat ditumbuhkan, tetapi sebaiknya dipilih bagian tanaman yang masih muda dan mudah tumbuh yaitu bagian meristem, seperti: daun muda, ujung akar, ujung batang, keping biji dan sebagainya. Bila menggunakan embrio bagian bji-biji yang lain sebagai eksplan, yang perlu diperhatikan adalah kemasakan embrio, waktu imbibisi, temperatur dan Dormansi.


 Keuntungan Pemanfaatan Kultur Jaringan

a. Pengadaan bibit tidak tergantung musim

b. Bibit dapat diproduksi dalam jumlah banyak dengan waktu yang relatif lebih cepat (dari satu mata tunas yang sudah respon dalam 1 tahun dapat dihasilkan minimal 10.000 planlet/bibit)

c. Bibit yang dihasilkan seragam

d. Bibit yang dihasilkan bebas penyakit (menggunakan organ tertentu)

e. Biaya pengangkutan bibit relatif lebih murah dan mudah

f. Dalam proses pembibitan bebas dari gangguan hama, penyakit, dan deraan lingkungan lainnya

g. Dapat diperoleh sifat-sifat yang dikehendaki

h. Metabolit sekunder tanaman segera didapat tanpa perlu menunggu tanaman dewasa.


 Kekurangan Pemanfaatan Kultur Jaringan

a. Bagi orang tertentu, cara kultur jaringan dinilai mahal dan sulit.

b. Membutuhkan modal investasi awal yang tinggi untuk bangunan (laboratorium khusus), peralatan dan perlengkapan.

c. Diperlukan persiapan SDM yang handal untuk mengerjakan perbanyakan kultur jaringan agar dapat memperoleh hasil yang memuaskan

d. Produk kultur jaringan pada akarnya kurang kokoh
Read more